Minggu, 25 Desember 2016

KITA SATU AQIDAH

Mengapa saling meremehkan.
Mengapa saling menjatuhkan.
Mengapa saling mengacungkan diri bahwa kita benar dan yang lain salah.
Saudaraku, ingat. Kita adalah ummat muslim. Apapun organisasinya, apapun harokahnya, apapun gerakan atau ormas yang kita ikuti. Kita ISLAM.

Tidak ada yang salah dengan ormas-ormas yang banyak. Kita mempunyai jalan masing-masing untuk berdakwah. Kita benar, yang lain juga benar. Biarkanlah saudara kita yang lain berdakwah dengan caranya masing-masing. Dengan cara yang mereka sukai. Dengan cara yang menurut mereka mudah untuk diterapkan. Biarkanlah.

Jangan menyalahkan !!!!

Yang benar hanya ISLAM. ISLAM itu satu.
Harokah itu buatan manusia. Jadi, jangan saling membanggakan diri.
Kenapa harus saling membenci. Allah ciptakan adanya perbedaan agar manusia bisa saling menghargai dan saling mencintai.

Rasulullah SAW bersabda:
"Laa yu'minu ahadukum hattaa yuhibba li akhiihi maa yuhibbu linafsihi"

Tidak beriman di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Yuk, mari kita belajar untuk tidak melukai hati saudara-saudara kita. Tidak menjelek-jelekkan harokahnya organisasi atau apalah namanya.

CINTAI SESAMA


Kamis, 08 September 2016

MENUJU JANNAH

Imam Syafi'i pernah berkata: "Seandainya,tidak ada ayat lain di dalam Al-Qur'an, maka surah
 Al-Asr ayat 1 sampai 3 sudah cukup sebagai bekal menuju surga"

Demi masa
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian 
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan menasehati supaya menetapi kesabaran.

Allah swt telah berfirman di dalam surah Al-Asr. Sungguh, manusia itu akan mengalami kerugian yang besar jika tidak mau beriman, enggan mengerjakan amalan saleh, tidak mau menasehati dalam ketaatan dan kesabaran.

Sungguh luar biasanya firman Allah tersebut. Sehingga Imam Syafi'i pernah berkata: "Seandainya,tidak ada ayat lain di dalam Al-Qur'an, maka surah
 Al-Asr ayat 1 sampai 3 sudah cukup sebagai bekal menuju surga"

Jika kita sebagai muslim yang taat akan firman Allah, tentu kita akan laksanakan apa yang telah allah firmankan. Insya allah kita akan mendapatkan suatu kebahagiaan yang sangat dirindukan yaitu Surga.
Surga itu kekal, surga itu abadi. Surga itu balasan untuk umat muslim yang beriman dan bertakwa.

Semua orang tentu ingin masuk surga. Namun, masuk surga juga mempunyai syarat-syarat yang harus kita penuhi. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:

Mempunyai Ilmu

Ilmu sangatlah penting bagi kita. Tanpa sebuah ilmu, kita tidak akan bisa menjalani kehidupan. Ilmu yang paling penting untuk kita pelajari adalah ilmu agama karena ia berhubungan dengan kehidupan kita di akhirat. Ilmu dunia juga penting. Namun, jangan sampai kita lebih mengutamakan ilmu keduniaan daripada ilmu untuk bekal kita di akhirat.
Menuntut ilmu wajib bagi siapa saja, baik itu laki-laki maupun perempuan. Mencari ilmu juga tidak terbatas oleh usia. Selagi ada kemauan, insya Allah ada jalan untuk mencapainya.
Allah juga akan menaikkan derajat orang yang menuntut ilmu.

Beramal

Ternyata, berilmu saja tidak cukup bagi kita tanpa mengamalkannya. Apalah arti sebuah ilmu jika ia hanya menjadi beban dalam hidup kita. Ilmu yang ditumpuk tidak akan menjadi apa-apa jika tidak diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.
Jangan seperti orang Yahudi yang mempunyai ilmu tapi tidak mau mengalakan. Jangan pula seperti orang Nasrani yang beramal tapi tidak mempunyai ilmu. Ilmu dan amal harus beringan.
Ketika beramal, maka kita harus mempunyai rujukan yaitu Al-qur'an dan Sunnah.

Jumat, 02 September 2016

Jangan Nyontek !!! Jujur lebih baik

Nyontek itu hal yang biasa dilakukan baik pelajar maupun mahasiswa ya nggak?
Entah, dari mana asalnya budaya menyontek itu yang jelas kalau saya pribadi kurang setuju.
Sebagai seorang mahasiswa biasa, saya sadar betul akan kemampuan saya dan standar kecerdasan otak yang saya miliki.

Walaupun mempunyai kemampuan berfikir yang biasa, namun saya paling tidak suka dengan menyontek.
Menyontek itu merupakan hal yang membiasakan diri kita untuk berlaku curang dan berbohong atas hasil yang diraih.
Belajarlah untuk menghargai kemampuan sendiri teman :)
Tahukah kalian, bahwa saya sering dibenci karena tidak mau memberikan jawaban kepada teman sekelas.
Saya juga sering dicap sebagai orang pelit dikelas.

Saya akui saya memang pelit dengan jawaban sekalipun jawaban yang saya punya hanya 50% yang benar. Saya tidak ingin melakukan kecurangan walaupun itu hal yang kecil.
Bukankah Allah sudah memberikan kita ilmu pengetahuan dan kemampuan masing-masing. Kitalah yang harusmengolah dan memanfaatkannya.

Jangan pernah takut dijauhi orang lain karena akan banyak orang yang akan mendekat ketika kita jujur.
Agar kita terhindar dari prilaku tidak baik ini, maka hal yang perlu kita persiapkan adalah pertama, siapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi ujian. Jangan sampai belajar keteteran itu yang membuat kita nggak fokus dan menjadikan kita menyerah untuk belajar. Kita beranggapan bahwa otak kita tak mampu lagi menampung pelajaran. Padahal, waktu belajar kita yang tidak efektif. Kedua, bentengi diri dengan keimanan yang kuat. Bukankah orang yang beriman akan bisa mengontrol dirinya ketika dihadapkan dnegan hal yang mengasikkan.






Kapan Lulus?

Baper kalau ada yang pasang foto wisuda.
Angker kalau ketemu dosen pembimbing
Bawaannya laper kalau lagi ngerjain skripsi
Ingat lemper :)
Eh malah bahas makanan ya.

Itu tuh perasaan mahasiswa tingkat akhir. Berasa di ujung tanduk. Tambah pusing kepala kalau banyak yang tanya "kapan wisuda?". WISUDA. Sidang akhir aja belum ya. hihihi.
Ya banyak-banyak bersabar dan lebih berusaha lagi bagi kamu yang juga sedang berada di tingkat akhir seperti saya.
Kenapa belum lulus?
Yuk kita lihat kebelakang lagi. Mungkin saja kita kurang usaha. Mungkin saja, kita terlalu meremehkan halaman demi halaman yang kita ketik. Mungkin saja, kita terlarut dalam kesibukkan organisasi (yang ini masih bagus). Mungkin saja kita terlalu menikamati waktu senggang tanpa kuliah.
Wah, kacau-kacau. Mungkin saja kita termasuk dalam beberapa daftar kemungkinan di atas. Atau kemungkinan terakhir adalah ketika segala upaya sudah kita lakukan maka itu bisa jadi adalah ujian kesabaran untuk kita :)
Semakin sabar maka semakin manis hasilnya  (pembelaan terhadap diri yang belum lulus nih) :p

Kawan, lulus terlambat memang bukan seutuhnya kesalahan kita. Tapi ingat, kita tetap mempunyai kewajiban untuk berusaha menyelesaikannya.

Kawan, jika kita tidak bisa lulus tepat waktu, maka yakinlah. Kita pasti lulus di waktu yang tepat :P
Banyak rencana yang telah Allah tuliskan tanpa kita ketahui sebelumnya :)


Kamis, 18 Agustus 2016

Para Penjaga Wahyu #Edisi 1

Sungguh, kini telah banyak para penghafal qur'an bertebaran. Dari usia anak-anak sampai orang dewasa. Malu sekali rasanya ketika usia sudah menginjak dewasa tapi hafalan belum seberapa. Jangankan menambah hafalan, mempertahankan hafalan yang ada saja masih terasa sangat sulit. Mungkin, banyak sekali hal-hal buruk yang kita lakukan yang menjadi penghalang bagi kita untuk ikut terdaftar sebagai PARA PENJAGA WAHYU.
Bahagia
Jika suatu saat kita bisa menjadi bagian dari mereka.
Bangga
Jika suatu saat kita bisa mempersembahkan mahkota terindah untuk kedua orang tua kita.
Penuh suka cita
Ketika kita mendapat gelar mulia dari Allah sebagai langkah untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat.
Menghafal, bukanlah perkara sulit. akan tetapi, kita yang sering mempersulit diri sendiri.
Kita perlu menyediakan waktu khusus untuk menghafal. Kesibukkan kita yang begitu banyak memang akan sulit menemukan waktu luang untuk menghafal bahkan tidak akan tersedia kecuali kita yang memang menyediakan waktu khusus untuk menghafal.
Ternyata, kebiasaan kita bisa memepengaruhi proses menghafal. Misalnya, kita termasuk orang yang senang mendengarkan musik dan bernyanyi. Seorang Ustadzah di Rumah Qur'an di Samarinda menyarankan agar seseorang yang ingin menjadi penghafal qur'an secara mutqin hendaklah menjauhi hal-hal seperti mendengarkan musik dan bernyanyi. Lebih baik perbanyak mura'jaah (mengulang) hafalan yang sudah ada.

Wah, kalau menghilangkan musik dari kehidupan masih berat rasanya ya. Tapi, demi menjadi seorang penghafal kita harus ikhlas menjankannya.
Selamat mencoba :)

Senin, 13 Juni 2016

Menjaga Diri Vs Berpuasa

Jujur, saya bukan wanita yang istimewa. Tapi saya belajar untuk terus menjadi yang istimewa agar kelak Allah karuniakan pendamping yang sangat istimewa sebagai hadiah untuk kesabaran saya. Berawal dari membaca buku karya Muhammad Akhyar, saya mendapatkan energi untuk lebih bisa menjaga diri. Buku yang ditulis beliau memang secara umum untuk para Aktivis Dakwah Kampus. Namun, juga cocok dibaca untuk diluar ADK. Pada awal-awal bab saya sangat tertarik dnegan judul VIRUS MERAH JAMBU. Dari judulnya sudah bisa ditebak kalau itu tentang cinta. Tapi, yang ini sangat berbeda.

Dikatakan bahwa seseorang yang bersabar menjaga pandangan, menjaga diri dan keimanan diibarakan seperti orang yang bersabar mehanan rasa haus dan lapar saat berpuasa. Sungguh, berat hal yang demikian namun manis hal yang akan didapatkan. Sungguh, kenikmatan yang tiada tara akan ia rasakan ketika berbuka. Ketika yang sudah Allah izinkan ia cicipi.

Minggu, 24 April 2016

Sudah Baikkah Akhlak Kita???

Kadang, ada kata yang terucap menyakiti telinga saudara kita
Kadang, ada sikap yang acuh pada mereka
Kadang pula, terpasang wajah masam kita untuk mereka.
Saudariku…
Sering kali kita lakukan hal semacam ini. Entah apa kah kita sadar atau tidak hal tersebut bisa membuat orang lain merasa sakit hati dengan kita, menjadi kecewa dengan sikap kita, karena kita telah menoreskan luka di hatinya. Luka yang sangat dalam. Semakin dalam ketika kita lakukan hal itu berkali-kali.
Untuk kita yang sudah merasa paham dengan agama, merasa menjadi muslimah beriman dan bertakwa. Mana buktinya, bukankah seseorang akan sempurna keimanannya jika ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Kita tidak boleh memperlakukan orang lain seperti itu, Karena kita pun pasti tidak akan mau.
Mungkin, saat ini kita telah banyak menelan ilmu, mempelajari banyak hal yang membuat kita merasa lebih baik. Tapi sayang kawan, kita lupa akan satu hal yang sangat penting dan memang sudah sepantasnya kita lakukan. Kita lupa bahwa ilmu itu harus diamalkan, bukan untuk dikumpulkan.
Ingat kawan, mereka yang kita sakiti hatinya akan membuat kesimpulan bahwa kita bukanlah orang baik baginya. Bukan seorang muslimah yang lemah lembut seperti yang ia kenal sebelum-sebelumnya. Bukannya kita ingin minta dipuji oleh manusia. Tapi, ini berkenaan dengan akhlak yang harus kita perbaiki. Bukankah kita akan lebih mudah mengajak teman-teman kita ke dalam kebaikan, ke dalam agama yang lurus, mengembalikan akidah mereka, jika kita mempunyai akhlak baik yang akan membuat kita mudah untuk diterima.
Seberat apapun ujian yang menimpa kita, sebesar apapun masalah yang telah kita hadapi, tetap tersenyumlah di hadapan mereka. Tetap bersikap manis dan berlemah lembutlah. Karena mereka bukan pembawa masalah bagimu. Barangkali, kita akan lebih terhibur dengan mempunyai banyak teman, akan merasa ringan beban hidup yang dijalani. Jangan sombong. Siapa tahu, kehadiran mereka adalah salah satu cara Allah untuk meringankan beban kita.
Selamat belajar untuk memperbaiki akhlak kawan-kawan J

“Muslim yang baik tidak hanya menjaga ibadah dan hubungannya kepada Allah, melainkan ia juga akan menjaga hubungannya dengan sesame makhluk Allah”


Samarinda, 25 April 2016







Kamis, 17 Maret 2016

Sudah Pantaskah?

Banyak teman-teman yang sudah rindu menikah. Jujur saya pun juga merindukan hal itu. Namun, kita juga harus sadar diri kenapa jodoh tak datang-datang.
Ingat baik-baik mungkin saya karena Allah ingin kita lebih memuliakan orang tua. Siapa tahu selama ini kita belum melakukan apa-apa untuk mereka. 
Merasa sudah sukses belum membuat orang tua bangga. Mungkin dengan kesuksesan sering membuat kita melupakan mereka.
Bakti, orang tua merindukan bakti kita sebagai seorang anak. Untuk apa harta yang banyak kalau kasih sayang anak tak mereka dapat. Na'udzubillah semoga kita tidak termasuk yang demikian.
Selain itu, kenapa Allah amsih biarkan kita sendiri. Lihatlah lagi diri kita. 
Apa lagi para aktivis yang super sibuk. Setiap hari pergi pagi pulang malam. Kamar yang ditinggalkan biasanya berantakkan. Cucian pasti menggunung. Belum lagi pakaian yang belum disetrika, Masalah makan aja sering lupa atau nggak beli katanya nggak sempat kalau masak.
Nah, kalau sudah begini parahnya, apa pantas kita merengek-rengek kepada Allah minta jodoh yang terbaik, yang rapi, yang sholeh, yang perhatian, dan yang laiinya. Sepertinya kita para muslimah khususnya terlalu banyak menuntut kepada Allah sementara diri sendiri tidak mau diperbaiki.
Kalau seandainyapun Allah kasihkan jodoh dengan situasi seperti itu, wah saya gak bisa bayangkan kalau suami tiap hari bakal kelaparan, bisa jadi pekerjaan rumah jadi suami yang kerjakan. Lalu, berkurang deh pahala kita sebagai seorang isteri untuk melayani suami. Wah-wah jadi inget filmnya DAQU_MOVIE "Isteri Paruh Waktu".
Sebelum masa itu tiba kawan, yuk kita perbaiki diri. Nggak cuma dalam hal ibadah tapi juga yang lainnya yang menurut kita itu sepele. Padahal sangat besar pengaruhnya untuk kehidupan kita.
Bersabar dan perbanyak ibadah. Allah Maha Pemberi.
Tidak perlu risau Insya Allah dengan YAKIN Allah kasih kita jodoh terbaik. Aamiin.

#KetikaHatiRinduMenikah